Tujuan & Alasan Homeschooling

Secara umum, tujuan homeschooling
selaras dengan tujuan Pendidikan Kristen, yaitu:

Membimbing setiap pribadi pada semua tingkat pada pertumbuhan, melalui pengajaran
masa kini ke arah pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui
Kristus dalam setiap aspek kehidupan, dan memperlengkapi mereka bagi pelayanan
yang efektif, yang berpusat pada Kristus.
Secara khusus, ada beragam tujuan orangtua memilih  homeschooling, namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi enam tujuan, sebagai berikut :
Alasan
Moral dan Religius
  • Orangtua
    ingin menitikberatkan pengenalan akan Allah, konsep manusia sebagai ciptaan
    Allah (image of God).
  • Orangtua
    ingin menanamkan nilai-nilai hidup, pendidikan moral dan etika serta
    pembentukan karakter anak.
  • Orangtua rindu agar anak menemukan talentanya, menemukan panggilan Allah dalam hidupnya
    dan berjalan menuju panggilan tersebut sesuai dengan potensi yang Tuhan
    berikan.
Family Unity
  • Bagi
    seorang anak, orang pertama yang dikenalnya adalah orangtua. Begitu pula
    sebaliknya, orang yang paling mengenal dan memahami anak adalah orangtua.
  • Homeschooling
    melibatkan seluruh anggota keluarga, sehingga membuat ikatan anggota keluarga semakin
    akrab.
  • Orangtua
    dapat menyediakan waktu yang berkuantitas dan berkualitas bagi anak-anak. Anak-anak
    yang bersekolah biasanya menghabiskan banyak waktu di sekolah, kemudian
    mengikuti les tambahan pada sore hari dan pada malam harinya anak-anak sibuk
    dengan pekerjaan rumah, sehingga sangat sedikit sekali waktu yang dapat
    dihabiskan bersama-sama antara orangtua dan anak. Melalui homeschooling, orangtua dan anak memiliki banyak waktu untuk
    digunakan bersama-sama.
  • Anak
    dapat mencontoh orangtua dalam mempelajari keterampilan hidup sehari-hari.
    Mereka dapat melihat bagaimana orangtua berinteraksi dengan orang lain,
    menyelesaikan konflik dan persoalan hidup.
  • Hubungan
    antara saudara kandung akan semakin dekat. Kakak dan adik saling menolong.
    Mereka pun belajar menyelesaikan persoalan bersama-sama.

Alasan
Akademis
  • Homeschooling
    bukanlah berfokus pada menyelesaikan kurikulum, memperoleh ranking,
    menyelesaikan test dengan nilai yang baik, tetapi anak belajar karena ia ingin
    belajar, karena belajar menjadi kesukaan, bukan untuk menghadapi test demi
    nilai yang bagus.
  • Model
    tutorial one-on-one menolong anak
    untuk dapat lebih konsentrasi dan mengerti apa yang diajarkan oleh orangtua,
    dibandingkan sistem kelas yang diikuti oleh sekitar 10-25 anak.
  • Untuk
    anak yang dapat menyelesaikan pelajarannya dengan lebih cepat, maka ia pun
    dapat memasuki perguruan tinggi lebih awal daripada teman lainnya.
Individualized Instruction
  • Orangtua
    dapat memilih materi dan pendekatan homeschooling
    yang berpihak pada anak dan disesuaikan dengan kondisi keluarga. Ada ada anak yang antusias belajar secara
    tematik (unit study) yang mata
    pelajaran tidak dipisah-pisahkan tetapi diintegrasi. Ada yang lebih menyukai
    belajar dengan penekanan kuat di literature (classical). Ada yang cocok belajar dengan dasar alam. Ada pula yang
    mengutamakan kebebasan anak untuk bisa mempelajari apapun yang mereka sukai, ada
    pula yang menggabung kesemuanya (eclectic).
  • Orangtua
    dapat mengajar anak sesuai dengan learning
    style
    anak. Tidak semua anak belajar dengan
    cara membaca teks di dalam hati dan duduk diam di kursinya.
  • Anak
    dapat belajar sesuai dengan kecepatan pembelajarannya. Jika
    anak memiliki bakat dalam bidang matematika, melalui homeschooling anak belajar matematika lebih maju daripada pelajaran
    lainnya, atau sebaliknya. Tetapi jika belajar di kelas, maka anak-anak harus
    menyesuaikan dengan kecepatan pembelajaran di kelas.
  • Orangtua
    dapat mengakomodasi keingintahuan (curiosity)
    anak.
  • Anak
    dapat belajar dan berkembang sesuai dengan minatnya. Jika anak memiliki minat
    khusus dalam bidang astronomi, melalui
    homeschooling anak memperoleh
    kesempatan untuk melakukan eksplorasi dalam bidang astronomi tanpa dibatasi
    oleh tembok kurikulum tertentu.
  • Orangtua
    dapat mengenali kelebihan dan kekurangan anak, menemukan bakat dan minat anak,
    sehingga dapat mengoptimalkan potensi di dalam diri anak.
  • Orangtua
    dapat membantu anak mengenali kelebihan dan kekurangannya, bakat dan minatnya.
    Hal ini sangat penting bagi pembentukan identitas diri anak secara positif.
  • Untuk
    anak yang berkebutuhan khusus, anak dapat belajar dengan disesuaikan
    perkembangannya.
Perkembangan
Sosial
  • Melindungi
    anak-anak dari tekanan teman sebaya (bullying
    and peer pressure
    ).
  • Melindungi
    anak dari  pengaruh buruk teman sebaya
    yang dapat merusak. Antara lain: nilai-nilai dari teman yang bertentangan
    dengan nilai keluarga, pengaruh perilaku negatif seperti cara berbicara,
    pengaruh pornografi, obat-obatan terlarang dan sebagainya. Dengan
    kata lain: meminimalkan kontaminasi dari teman dan memaksimalkan impartasi dari
    orangtua.
  • Menciptakan
    atmosfer belajar yang kondusif, di mana anak-anak dapat belajar dengan fokus,
    tanpa tekanan dan kecemasan, sehingga anak-anak terhindar dari stress.
  • Melalui
    penanaman nilai moral, keakraban yang terjalin antara orangtua- anak,
    serta  anak dapat belajar dengan rasa
    cinta, akan mendorong perkembangan sosial yang baik bagi anak.
  • Interaksi
    yang bervariasi dengan berbagai rentang usia, dan dengan berbagai jenis orang akan
    memampukan anak bergaul dengan orang dari berbagai usia.
  • Anak
    lebih siap terjun di dunia nyata (real
    world
    ) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari.
Alasan
Lain-lain
  • Orangtua
    sering berpindah-pindah atau melakukan perjalanan.
  • Anak-anak
    memiliki kebutuhan khusus yang tidak dapat dipenuhi di sekolah umum.
  • Orangtua
    merasa sekolah yang baik semakin mahal dan tidak terjangkau.

( by : Ly )

Sumber :
– Anakku Tidak Sekolah (Maria Magdalena)
– Homeschooling : Lompatan Cara Belajar (Sumardiono)
– Homeschooling – Rumahku Kelasku, Duniaku Sekolahku (Arief Rachman)
– Warna-Warni Homeschooling (Aar, dkk)
– Free Range Learning (Laura Grace)
– Starting Point of Homeschooling (Diana Johnson)

Leave a Reply

Your email address will not be published.