Membangun Motivasi Anak

 

“Bagaimana caranya memotivasi anak-anak?” 
Sebagai orangtua, kita ingin anak-anak kita menjadi yang terbaik. Kita ingin mereka terdorong untuk belajar, berprestasi dan sukses dalam hidup mereka. Tetapi betapa pun baiknya maksud kita, banyak anak tidak mempunyai motivasi yang sama dengan kita.

Percaya atau tidak,  apabila anak termotivasi, maka anak akan melakukan yang terbaik dengan hati yang gembira.
Nah, apakah motivasi itu?
Motivasi adalah dorongan dari dalam yang membuat kita melakukan sesuatu. Motivasi mungkin berasal dari keinginan pribadi atau mungkin berasal dari luar. Bila kita memotivasi orang lain, berarti kita menginspirasikan harapan di dalam diri orang tersebut. Kita mendorong dia untuk bertindak atau mendorongnya untuk maju.  
Menurut Carol Dweck, seorang psikolog, “Dalam menentukan kesuksesan, motivasi seringkali lebih penting daripada kemampuan awal.”
Bila anak-anak memiliki motivasi,  anak-anak akan merasa gembira mempelajari atau mencapai sesuatu. Mereka akan bersemangat mengerjakan tugas yang diberikan, baik di rumah maupun di sekolah. Bila mereka terbentur pada rintangan, mereka tidak menyerah hanya karena menghadapi tantangan yang sulit. Sebaliknya, ada semangat yang berkobar di hati mereka untuk terus maju.
Bagaimana kita – sebagai orangtua dapat menolong anak-anak agar tetap termotivasi untuk menghadapi setiap tantangan yang menghadang? Bagaimana kita dapat memperlengkapi mereka untuk mencapai semua rencana mereka yang indah?
Bagaimana caranya agar kita dapat memperbesar motivasi mereka dan bukan memadamkannya ?

Ada beberapa unsur pembangun motivasi, sebagai berikut :
1.  Hubungan
Anak-anak yang termotivasi cenderung mempunyai hubungan yang erat dan saling mengasihi dengan orangtua mereka. Bila hubungan orangtua dan anak lemah, maka tidak akan menghasilkan anak-anak yang mempunyai motivasi dan senang belajar. Kebutuhan emosial yang tidak terpenuhi dapat menghalangi anak-anak untuk belajar. Anak yang haus kasih sayang, penerimaan, dan perhatian dari orangtuanya tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menghadapi tantangan di sekolah dan kehidupan.
“Dengan mempunyai kepercayaan kepada orang tua mereka, anak-anak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri dan kepada orang lain, dan mereka dapat hidup dengan cara yang bijaksana.” – Dr. Yamamoto-
Ketika jalur komunikasi antara orang tua dan anak terbuka, maka minat belajar dan motivasi meningkat.
Untuk mengembangkan hubungan yang erat dan saling mengasihi dapat dilakukan dengan cara melakukan kegiatan bersama-sama,  saat itu bisa menjadi kesempatan untuk membicarakan tekanan teman sebaya, teman-teman pria atau wanita, iman dan berbagai topik lainnya yang lazim dialami anak-anak dalam masa pertumbuhan menjadi dewasa. Orangtua perlu menemukan menemukan minat atau kesenangan yang sama yang dapat dilakukan orang tua anak.
2. Teladan yang baik
Teladan yang kita berikan merupakan motivator yang kuat karena anak-anak terutama belajar dengan meniru. Sebagai orangtua, kita mengirimkan pesan yang paling kuat melalui tindakan kita.
“Motivasi muncul lebih banyak dalam kehidupan sehari-hari bersama orang tua yang mempunyai semangat intelektual dan menunjukkan kegembiraan dalam mempelajari buku-buku, gagasan, bilangan – ini sangat menular!” kata Dr. Arthur M. bodin.
“Tidak ada yang lebih memotivasi selain daripada melihat orang tua yang menikmati apa yang dilakukannya.”- Jennifer Jacobson- pakar pendidikan dan perkembangan anak dari Cumberland, Maine.
Bahkan dalam kesalahan pun, kita dapat menjadi contoh yang baik. Kesediaan kita untuk mengakui kesalahan dan belajar dari kesalahan itu penting di mata anak-anak.
Tanyakan kepada diri kita sendiri : Sebagai orangtua, seberapa baik saya menyikapi kegagalan? Seberapa tekun saya mengatasi rintangan, keterlambatan, dan kekecewaan di dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan ini penting karena perannya yang sangat penting dalam memotivasi anak-anak kita.
3. Harapan
Anak-anak yang sukses dan dapat mengatasi rintangan di sekolah dan kehidupan sehari-hari biasanya memiliki satu pengalaman yang sama: Mereka mempunyai setidaknya satu orang yang menaruh harapan terhadap mereka  dan memberikan dukungan dan kerangka untuk impian mereka. Anak-anak, semua umur, membutuhkan orang tua, guru dan pelatih yang mempercayai mereka, mendukung mereka, dan mengharapkan mereka melakukan yang terbaik.
Harapan menyiratkan suatu kepercayaan tentang suatu apa yang akan terjadi atau apa yang akan dilakukan seseorang di masa depan. Harapan mengandung kuasa untuk memperkirakan dan menghasilkan sesuatu.
“Keyakinan dan harapan yang didasarkan pada potensi anak kita (BUKAN potensi kita) bahwa anak akan sukses, sering membawa kepada kesuksesan.” – Dr. David Lowenstein.
4.  Sudut pandang yang sehat
Survey membuktikan bahwa salah satu fokus dan yang menjadi kekhawatiran orangtua terhadap anak adalah nilai di sekolah. Sehingga orang tua yang ingin anak-anaknya sukses, tanpa disadari dapat menambah stress dengan menuntut nilai rapor yang tinggi.  
Dr. David Elkind, psikolog di Tufts University, berkata “Bila menekankan nilai, kita dapat mematikan motivasi anak. Tetapi bila anak-anak melihat kita sendiri gemar membaca, mengajukan pertanyaan, memberikan contoh dalam hal belajar dan haus pengetahuan, maka secara alamiah anak-anak akan meniru.”
Orangtua perlu memiliki sudut pandang yang benar bahwa rapor bukanlah segalanya dalam kehidupan, tetapi ada faktor lain yang jauh lebih penting yang sangat menentukan kesuksesan seseorang daripada nilai-nilai di buku rapor, yaitu : kreativitas, komitmen terhadap tugas, ketekunan, inisiatif, keinginan yang membara, minat yang besar atau kerinduan yang memuncak.
Daripada berfokus pada nilai, kita perlu menyampaikan kepada anak, bahwa proses belajar itu sendiri penting dan berharga.
( Sumber : Raising Motivated Kids – Cheri Fuller )

Leave a Reply

Your email address will not be published.