Membangun Harga Diri Anak

Betapa banyak orang tumbuh dengan
perasaan minder, sulit bergaul dan pemarah !
Biasanya jika ditelusuri
asal-muasalnya, perasaan itu muncul karena sejak kecil orang tersebut tidak
bertumbuh dengan  HARGA DIRI yang
cukup. Bisa karena sering dicela, dipersalahkan dan jarang dipuji. Bisa juga
karena bertumbuh tanpa pengarahan orangtua, hanya dengan pembantu dan baby-sitter.
Pada saat remaja, anak akan
bersosialisasi dengan teman-temannya dengan tangki cinta yang nyaris kosong,
sehingga dia akan menjadi anak yang mudah dipengaruhi untuk melakukan hal-hal
buruk.
Merasa diri berharga adalah hal yang
sangat penting
!!
Perasaan ini dibentuk melalui relasi
orangtua dengan anak. Salah satu caranya adalah sejak kecil usahakan agar anak
kita mendapat penerimaan dan penghargaan rasa dicintai.
Mengasihi anak tanpa syarat merupakan modal
utama bagi pembentukan harga diri anak!
Mengasihi tanpa syarat berarti
mengasihi anak, tak peduli apa pun yang mereka lakukan, katakan, dan percayai. Sebagai
orangtua, kita boleh saja tidak suka dengan perbuatan mereka, namun kita akan
tetap mengasihi mereka. Untuk memberikan kasih sayang tanpa syarat, kita perlu
menjadi orangtua yang tangguh dan menggunakan pikiran jernih. Dengan demikian,
walaupun hati kita kadang-kadang kecewa mendengar perkataan anak yang kurang
berkenan, kita bisa tetap menggunakan pikiran sehat tanpa mempengaruhi rasa
cinta kita pada anak.
Banyak orangtua bersikap tidak
konsisten, yaitu bersikap suportif dan penuh perhatian ketika anak bersikap
manis dan penurut, tapi kemudian berubah sikap menjadi keras  jika anak tidak menurut. Padahal, justru
mengasihi tanpa syarat paling dibutuhkan ketika anak kita dalam kondisi
“sedikit menyebalkan”. Misalnya, ketika anak-anak sedang melakukan dengan sengaja
sesuatu yang dilarang oleh orangtua.

Bagaimana
caranya mengasihi anak tanpa syarat ?
1.
Bedakan “anak” dengan “perilakunya”
Ketika anak memukul
temannya, ada dua cara orangtua mengevaluasinya.
Pertama, dengan menyatakan
perilaku anak secara spesifik, “Kamu kehilangan kesabaran lalu memukul teman
kamu ya.”
Yang kedua, dengan
memfokuskan pada anak, lalu menyimpulkan, “Kamu pemukul.”
Apabila kita berfokus pada
perilaku, maka kita bisa membantu anak untuk mengidentifikasi perilaku yang
perlu diperbaiki. Sebaliknya, jika kita berfokus pada anak, maka kita memberi
label “pemukul” kepada anak kita.
2.
Berikan perhatian dan waktu khusus.
Waktu khusus adalah waktu
berinteraksi bersama anak, seperti bermain dan bercakap-cakap. Jadi bukan
sekadar bertanya, “Sudah mandi belum?” atau “Sudah mengerjakan PR belum?”.
Bukan pula menjawab
pertanyaan anak sambil membaca koran atau menonton TV.
Memberikan perhatian dapat
juga dilakukan dengan memberikan banyak sentuhan fisik, seperti pelukan,
belaian, tepuk kepala atau punggungnya, atau sentuhan apa saja yang disukai
anak.
3.
Hargai keunikan masing-masing anak.
Mengasihi anak apa adanya
memerlukan pengetahuan tentang keunikan anak dan mengijinkannya berkembang. Usahakan
sejak kecil kita mengenali minat dan bakat anak, lalu
bantulah anak mengenali
keunikan pribadinya, dan doronglah anak untuk mengembangkannya.
Tidak sedikit orangtua
tergoda memberi anaknya les banyak, dan berharap anaknya pandai dalam banyak
bidang, padahal ini adalah ambisi orangtuanya.
Kemudian, jangan suka membanding-bandingkan
si anak dengan kakak atau adiknya.
4.
Mengurangi kritikan dan mencari alternatifnya.
Kritik yang terlalu sering
sama sekali tidak produktif, bahkan anak akan berhenti mencoba jika ia berpikir
tidak mungkin menyenangkan orangtuanya. Terlalu banyak kritik akan membuat anak
merasa tak berharga.
Jika kita terpaksa
mengkritik, jelaskan tindakannya dengan jelas dan spesifik, misalnya, “Pukulan
kamu menyakiti adikmu.”  Jangan
mengatakan kepada anak, “Kamu jahat.”
Perhatikan juga bahasa tubuh
kita agar kita tetap bisa menyampaikan kritik dengan tenang, bukan dengan
kemarahan.
Sebagai pengganti kritik,
kita dapat memanfaatkan masalah menjadi teaching moment. Banyak hal
berharga yang bisa kita ajarkan pada anak ketika dia berperilaku negatif. Misalnya,
ketika melihat dampak perbuatannya bisa melukai perasaan dan fisik orang lain,
kita bisa mengajak anak untuk mengevaluasi emosinya dan mengajaknya berpikir.
Bantulah anak untuk membuat rencana lain agar lain kali, saat kecewa ia tidak
harus melukai orang lain. Perlu diingat bahwa ketika anak berperilaku negatif,
tujuan kita bukan membuat anak merasa dirinya jahat atau tidak baik. Tetapi
kita mengembangkan cara berpikir anak dan kecerdasan emosi anak.
5.
Mengembangkan rasa percaya diri anak.
Rasa percaya diri anak
muncul pertama kali dari kasih, kepedulian dan penilaian orang tua terhadap
anak. Apa yang orangtua katakan tentang anak, itulah yang dia percayai. Jika
kita mengatakan bahwa anak kita berharga, dia pun percaya bahwa dia berharga.
Jangan pernah melihat anak kita sebagai suatu masalah.
Lihatlah permasalahan anak
kita sebagai kesempatan untuk mendidik dan menunjukkan kasih sayang.
Kata-kata yang sering digunakan
orangtua ketika berinteraksi dengan anak sangat berpengaruh dalam perkembangan
harga diri anak. Karena itu, usahakan untuk memilih kalimat-kalimat positif
yang dapat membangun harga diri anak.
Berikut ini beberapa contoh yang dapat digunakan untuk
berbicara pada anak:


1.       “Papa/mama mencintaimu, apa pun yang terjadi.”
2.       “Kamu sangat istimewa karena……”
(Katakan kepadanya mengapa
ia istimewa, misalnya rajin belajar, peduli kepada orang lain, dan suka
menolong).
3.       Papa/mama bangga kepadamu.”
(Ketika anak melakukan hal
yang positif dan memerlukan perjuangan).
4.       “Jangan takut melakukan kesalahan. Kesalahan adalah awal dari setiap
kemajuan.”
(Ajarkan anak untuk belajar
dari kesalahan yang dilakukannya. Berikan contoh hal-hal benar yang dapat
dilakukannya dalam situasi yang sama).
5.       “Kamu menyenangkan. Papa/mama senang bersamamu.”
6.       “Papa/mama senang mendengarkan ceritamu…..ayo cerita lagi.”
(Menceritakan pengalamannya
sangat penting bagi anak. Bila kita sering memintanya bercerita, ia akan merasa
diperhatikan dan lebih mempercayai kita).
7.       “Ayo, belajar hidup seimbang.”
(Ajarkan anak bahwa semua
hal harus seimbang, misalnya belajar, bermain, makan, beristirahat, dan semua
harus sesuai dengan kebutuhan).
8.       “Pasti ada yang lucu di balik peristiwa ini. Apa itu?”
(Tertawa menghilangkan
kesedihan dan stress, mencairkan situasi yang tegang).
9.       “Carilah hal positif dari orang-orang yang kamu temui.”
(Ajarkan anak kita untuk
peduli kepada orang lain, tidak menghakimi seseorang, dan tidak terlalu cepat
mengambil kesimpulan).
10.   “Hebat, kamu berhasil menyelesaikannya!”, “Kamu bisa!”, atau “Kamu bisa menjawab soal PR ini, padahal susah juga lho. Bagus
sekali.”
11.   “Papa/mama percaya kepadamu!”
(Pernyataan yang sederhana
ini mengajarkan anak bahwa kita mendukungnya).
12.   “Coba katakan, apa yang kamu pelajari dari sana?”
(Ajarkan anak untuk
menyaring pelajaran yang ia dapat dari pengalamannya sehari-hari).
13.   “Papa/mama suka semangat kamu.”

 

(Sumber
: Mendidik Anak Utuh & Successful Parenting)

Leave a Reply

Your email address will not be published.