Homeschooling & Transformasi Pendidikan

Di dalam Alkitab menuliskan bahwa sebagai umatNya, kita memiliki potensi untuk memberikan ‘influence’ bagi bangsa dan kota di mana kita tinggal.Mengapa kita perlu memberikan dampak bagi kota kita ?
Karena kota dan bangsa yang ada telah dibangun dengan konsep dunia, bukan oleh konsep Kerajaan Allah.
Sehingga …. segala aspek yang ada telah dicemari oleh sistem-sistem dunia yang sangat merusak penduduknya.

Ada beberapa aspek yang harus diubah dari sistem-sistem dunia dan dibangun berdasarkan konsep Kerajaan Allah, namun yang akan dibahas saat ini adalah topic mengenai Education /Pendidikan.

Bagaimana homeschooling bisa men-transformasi pendidikan di bangsa ini ?

Di dalam Mazmur 139 : 13-14 menuliskan :
” Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”

Saat Tuhan membentuk kita, Tuhan menenun kita, artinya pekerjaan yang dilakukan dengan teliti, membentuk satu demi satu.
Setiap kita, juga anak-anak kita diciptakan Tuhan secara khusus, spesifik dan ajaib.
Kita diciptakan untuk menggenapi rancangan ( destiny ) yang telah Tuhan sediakan.
Rencana Tuhan bagi anak-anak kita adalah agar mereka dapat menjadi berkat bagi setiap orang, memberi jawab bagi masalah-masalah yang ada dan memberi dampak bagi bangsa ini sesuai dengan talenta dan panggilan yang Tuhan berikan.

Oleh karena itu, melalui homeschooling, orang tua akan mengarahkan anak-anak sesuai kemampuan, bakat, potensi dan talenta yang Tuhan berikan dan mendorong anak-anak untuk mencapai rencana Tuhan bagi mereka.
Tetapi di dalam pendidikan dunia, anak-anak hanya diukur melalui IQ dan mengabaikan potensi yang lain. Anak-anak didorong melalui persaingan yang tidak baik, bukan diarahkan untuk mencapai kehendak Tuhan.

Sebagai orang tua, pernahkah kita memikirkan benih apa sajakah yang akan ditabur kepada anak-anak kita?
Di dalam sistem pendidikan dunia, banyak benih yang bukan berasal dari Kerajaan Sorga akan ditaburkan kepada anak-anak kita.
Sehingga ketika anak-anak tumbuh dan berkembang, mereka akan memegang sistem dan konsep dunia dalam kehidupannya. Bukankah hal ini sangat disayangkan ?

Pernahkan kita memikirkan apa yang akan terjadi apabila anak kita telah menjadi dewasa ?

Ada 3 faktor utama yang sangat mempengaruhi pembentukan seorang anak, yaitu :

1. Keluarga
2. Sekolah
3. Lingkungan

KELUARGA

Ulangan 6 : 6-7, menuliskan :

” Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. ”

Alkitab menuliskan bahwa otoritas untuk mendidik anak diserahkan kepada orang tua, bukan kepada pembantu, suster, gereja ataupun lembaga pendidikan mana pun juga.
Orang tua bertanggung jawab untuk menanam nilai-nilai Kerajaan Allah bagi anak-anak kita.
Jika bukan orag tua, siapa lagi ?
Selain itu, hanya orang tua lah yang paling mengasihi anaknya dan mengetahui bakat, kemampuan dan learning style anak-anak kita.

SEKOLAH

Ketika anak kita bersekolah, anak kita akan menghabiskan waktu sekitar 6-8 jam sehari. Ditambah kursus dan les.
Sebagian besar waktu anak akan dihabiskan di sekolah atau pun tempat les bersama dengan teman-temannya.
Hampir seluruh kegiatan di sekolah, lebih menekankan hal-hal akademik seperti membaca, menulis dan matematika daripada menanamkan nilai-nilai dan karakternya.
Padahal, pendidikan yang sesungguhnya adalah mencakup seluruh aspek kehidupan.
Bukan hanya sekedar naik kelas, lulus test dan mendapat ijazah.

Di dalam buku “What Every Child Should Know Along the Way” by Gail Martin, aspek-aspek yang perlu ditanamkan kepada anak-anak kita adalah sbb :

1. Pengenalan akan Tuhan dan rencanaNya dalam kehidupan kita
2. Keluarga
3. Bakat dan Talenta
4. Biblical Character Traits
5. Manners / Etika
6. Practical Living Skills
7. Personal Safety

Aspek-aspek tersebut tidak bisa ditanamkan dengan ukuran “jam belajar” seperti di sekolah.
Hal yang paling tepat adalah seperti dikatakan oleh Charlotte Mason, bahwa “Education is an atmosphere, a discipline, a life.”
Melalui homeschooling, anak-anak ‘bersekolah’ bersama dengan orang tuanya “learn how to learn” dan dan belajar seluruh aspek kehidupan.

Jika anak-anak bersekolah di rumah, banyak pertanyaan demikian :

1. Bagaimana anak-anak dapat bersosialisasi ?

Hal yang penting perlu kita ketahui bahwa interaktif anak tidak dapat diukur hanya dengan teman sekelas di sekolah. Anak dapat berinteraktif dengan siapa saja, seperti orang tua, saudara kandung, teman di gereja, tetangga, maka anak-anak kita akan belajar nilai kehidupan yang sesungguhnya.
Apakah sekolah dapat menjamin keberhasilan sosialisasi anak ?
Tidak sedikit orang tua yang bercerita, bahwa anak-anak mereka sangat terpengaruh dengan teman-temannya. Misalnya, anak bisa berkata-kata yang tidak pantas walaupun tidak pernah diajarkan di rumah.
Ataupun anak-anak pulang dengan bercucuran air mata karena konflik dengan teman-temanya atau “kalah nilai” dari temannya.
Kondisi yang demikian tidak baik bagi perkembangan anak. Banyak kontaminasi yang mempengaruhi anak.

Namun, melalui homeschooling, orang tua dapat memaksimalkan impartasi nilai-nilai Kerajaan Allah dan mengurangi kontaminasi nilai-nilai dunia !

2. Bagaimana anak-anak dapat memiliki semangat untuk berkompetisi agar termotivasi untuk belajar ?

Ada orang tua yang pernah bercerita bahwa ia sedih melihat kondisi anaknya di sekolah, karena anaknya stress tidak bisa bersaing dengan teman sekelasnya, disebabkan ia memiliki kecerdasan yang lain, yaitu kinestetis. Anak tersebut sudah berusaha keras supaya mendapat ranking, namun motivasinya karena ia malu dan jika ia berhasil … ia mengharapkan pujian dari gurunya.
Apakah motivasi ini benar? Bukankah ini membuat anak stress? Bukankah ini membuat anak tidak menjadi dirinya sendiri?
Apakah persaingan ini sehat?

Untuk mendapatkan yang terbaik, bukan dihasilkan dari persaingan di sekolah, tetapi bagaimana orang tua menanam nilai kehidupan kepada anak agar ia menemukan yang terbaik di dalam rancangan Tuhan. Kita perlu menanamkan nilai kepada anak-anak bahwa kita belajar, berusaha dan bekerja keras untuk memuliakan dan menyenangkan Tuhan, bukan untuk mencari pujian orang-orang.
Sehingga anak akan termotivasi untuk menjadi lebih baik karena mereka ingin menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupannya.

LINGKUNGAN

Melalui homeschooling, orang tua bisa menciptakan lingkungan yang baik bagi anak-anak kita. Lingkungan yang merangsang rasa ingin tahu anak, ‘love of learning’ anak-anak dan atmosfir yang baik untuk perkembangan dan pertumbuhan anak-anak kita.
Selain itu, orang tua dapat memilih lingkungan luar yang membangun anak-anaknya.

Sebagai orang tua, marilah kita membangun kota melalui pendidikan anak-anak kita untuk generasi yang akan datang.
Jika bukan kita, siapa lagi yang akan memberikan investasi buat anak – anak kita ???

( by : Ly )

( Beberapa tulisan bersumber dari :
Kingdom Driven Church, by Pdt. Ir Y Wiryohadi )

Leave a Reply

Your email address will not be published.